Tidak presisinya alat test pengujian virus corona -->

Advertisement

SELAMAT DATANG DI WWW.KEIZALINNEWS.COM INSPIRASI RAKYAT INDONESIA

Tidak presisinya alat test pengujian virus corona

Redaksi
Sunday, January 24, 2021


Oleh : Fatur Rachman


Fatur adalah seorang pemuda yg berasal dari desa Ngali, ia mengamati banyak kejanggalan alat tes virus dan lonjakan pengindap virus. Tulisan ini hanya representasi dari fakta empiris dari perspektif yg ia temui di lapangan. Virus Corona pertama kali hadir di kota Wuhan(China) dan di publikasikan oleh WHO dengan nama Sars-CoV. Dari hasil pengujian pasien pengindap virus yg reaktif sampai ke positif banyak kesalahan yg terjadi diantaranya :


1.  Thermo gun

Hasil dari test suhu tubuh melalui alat thermo gun ini bekerja sebagai pengukur suhu badan yg kerap kali di gunakan untuk menganalisis gejala pengindap virus ini, namun jika di telusuri alat yg digunakan dari test suhu tubuh ini adalah alat pengukur panas listrik yg mengubah daya radiasi dari pancaran inframerah dan mengubah daya radiasi menjadi sinyal listrik yg di tampilkan dalam satuan angka, test suhu inilah yg kerap kali seseorang di anggap bergejala atau tidaknya (tergantung dari suhu badan), disatu sisi alat test yg tdk presisi (Alat tes suhu kabel) menjadi penentu awal seseorang bergejala atau tidak. Dalam pandangan lain alat ini jika digunakan terus menerus akan dikhawatirkan radiasi infamerahnya bisa merusak saraf otak ( Neouron).


2. Rapid test

Rapid test dilakukan dengan mengambil sampel darah. Metode rapid test memeriksa virus menggunakan antibodi IgG dan IgM yang ada di dalam darah. Antibodi tersebut terbentuk dalam tubuh saat kita mengalami infeksi virus. Jadi, jika di dalam tubuh kita terjadi infeksi virus, maka jumlah IgG dan IgM dalam tubuh akan bertambah. Hasil rapid test ini dapat memperlihatkan adanya IgG atau IgM dalam darah. Jika ada, maka hasil rapid test dinyatakan reaktif ada infeksi virus.


Namun, hasil tersebut bukanlah diagnosis pasti yg menggambarkan infeksi COVID-19. Maka, jika seseorang dengan hasil rapid test reaktif maupun non reaktif akan dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, yaitu pemeriksaan PCR swab.


Maka dapat disimpulkan bahwa rapid test hanyalah ekonomi bisnis belaka yg sebenarnya tdk presisi untuk mendeteksi virus,  belakangan ini rapid test ini terbagi menjadi 2 yaitu test rapid antibody dan rapid antigen.


3. Swab tes


Swab test adalah salah satu metode yg dilakukan oleh tenaga medis untuk mendeteksi keberadaan virus atau bakteri penyebab penyakit, Pengambilan sampel pada rongga nasofarigs yg menggunakan cotton bad Hasilnya swab tes akan dinyatakan positif jika DNA atau RNA dari lendir hidung tersebut sesuai atau cocok dengan  DNA dari virus. Dalam pengujian ini Swab tes tidak menentukan seseorang mengindap virus tersebut,hanya mencocokkan isi sampel swab yg di ambil dari rongga nasofarigs namun sampel ini  berisi campuran sel sel manusia, partikel virus dan makhluk micro berupa protozoa, exosome, bakteri, ingus, jamur atau mungkin virus covid19 itu namun yg menjadi pertanyaan RNA ini bercampur partikel dan sel manusia yg tdk presisi menentukan RNA virus, jika RNA nya tdk di dapat di murnikan maka DNA virus tdk dapat di cocokkan.. sampel swan inilah yg menjadi sampel memurnikan RNA virus yg akan di masukkan ke Alat PCR untuk menentukan DNA virus.


3. PCR test

Kemampuan tes PCR  hanyalah mendeteksi materi genetik tersebut bisa digunakan untuk mendeteksi sejumlah penyakit dengan menentukan DNA virus,

mengambil sample dari RNA virus lalu di murnikan. Hasil tes swab indikator langka selanjutnya menetukan DNA virus dengan alat PCR, namun ketahuilah PCR tdk bisa menentukan DNA virus, PCR mengdiagnosis suatu penyakit hanya dari pemurnian RNA suatu genetik melalui teknik amplifikasi. lalu hasil laboratorium yg meneliti genetik virus ini berasal dari mana jika hanya menentukan dari RNA virus..? Sampel swab adalah sampel yg di ambil pada pengujian PCR yg di ambil dari hidung berisi campuran sel sel manusia, partikel virus dan makhluk micro berupa protozoa, exosome, bakteri, ingus, jamur atau mungkin virus lalu RNA mana yg di jadikan sampel untuk memurnikan RNA virus yg akan di masukkan ke alat PCR untuk menentukan DNA virus..? bukankah sampel hasil swab (RNA) itu berisi materi genetik yg telah bercampur sel2 manusia, partikel dan makhluk micro lainnya.


4. Tiga garis Protocol PCR 


 Tiga garis pada alat pencocokan PCR c,Value(RNA) jika semakin mendekati garis flourescence maka  di indikasi mengadung virus yg banyak ( Kurang dari 40) * sedangkan pemurnian RNA virusnya saja tdk jelas, apakah itu RNA Covid atau RNA exosome, protozoa atau makhluk genetik lainnya. alat PCR tidak akurat membuktikan seseorang itu terjangkit virus ( hanya pengujian tiga garis semu yg bersumber dari RNA hasil Swab untuk menentukan genetik DNA dari virus / virusnya tdk pernah kelihatan).


Maka tak heran bila banyak lonjakan pengindap virus, banyak yg dinyatakan orang tanpa gejala dan banyak yg di nyatakan postif lalu sembuh sendiri, RNA yg uji tidak jelas mengakibatkan pengujian genetik DNA virus tidak jelas.