Guru, Kenapa Harus Berkarakter ? -->

Advertisement


 

Guru, Kenapa Harus Berkarakter ?

SANGRAJAWALI
Tuesday, July 28, 2020


KeizalinNews.com | Aceh - Guru adalah pendidik dan pengajar untuk anak usia dini sampai usia sekolah menengah pada pendidikan formal. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal baik secara fisik maupun psikologi. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.

Saat ini sudah diberlakukan Kurikulum  K13, dimana kurikulum ini lebih menfokuskan tentang pendidikan karakter, dalam kegiatan belajar mengajarnya peserta didik dituntut lebih aktif dan mengembangkan potensi dirinya. Tujuan dari kurikulum ini adalah menghasilkan pribadi yang berkarakter.

Seorang  guru juga sangat berpengaruh dalam membentuk karakter peserta didiknya,  karenanya seorang guru harus memiliki karakter baik yang akan di contoh peserta didiknya. baik saat berada di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat apalagi di dunia maya. Beberapa contoh sikap yang sederhana yang mampu memberikan dampak positif bagi pengembangan karakter :

1. Memberikan contoh berbicara yang sopan dan santun. Menjadi guru memerlukan psikologi yang matang, apalagi saat berkomunikasi dengan siswa dan warga sekolah lainnya. Kematangan sikap seorang guru bukan dilihat dari umur, tapi dilihat dari sikap saat bergaul, memiliki bahasa yang sopan, tingkah laku yang baik bukan seperti preman pasar yang belum dapat jatah makan siang.

2. Berkelakuan baik. Seperti kata "jika ingin dihormati maka kita harus menghormati". Dalam pendidikan, "ketika ingin membentuk peserta didik yang berkarakter maka pendidik harus berkarakter". Guru yang berkarakter baik harus dapat menunjukkan sikap dan tingkah laku yang baik, karena siswa akan menilai dan meniru gaya dan kelakuan seorang guru.

3.Bersikap baik terhadap guru-guru lain
Suasana baik diantara guru-guru nyata dari pergaulan ramah-tamah mereka di dalam dan di luar sekolah, mereka saling menolong dan kunjung mengunjungi dalam keadaan suka dan duka. Mereka merupakan keluarga besar, keluarga sekolah. Terhadap anak-anak, guru harus menjaga nama baik dan kehormatan teman sejawatnya. Bertindaklah bijaksana jika ada anak-anak atau kelas yang mengajukan kekurangan atau keburukan seorang guru kepada guru lain.

4.Bersikap baik terhadap masyarakat
Tugas dan kewajiban guru tidak hanya terbatas pada sekolah saja tetapi juga dalam masyarakat. Sekolah hendaknya menjadi cermin bagi masyarakat sekitarnya, dirasai oleh masyarakat bahwa sekolah itu adalah kepunyaannya dan memenuhi kebutuhan mereka. Sekolah akan asing bagi masyarakat jika guru-gurunya memencilkan diri seperti kodok dalam tempurung kalau dalam bahasa Aceh (Cangguek di Miyub Bruek), tidak suka bergaul atau mengunjungi orang tua murid-murid, memasuki perkumpulan-perkumpulan atau turut membantu kegiatan masyarakat yang penting dalam lingkungannya. Masyarakat akan menilai setiap tingkah laku seorang guru ketika berbicara, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, jangan gara-gara kita tidak enak makan dirumah dan pengaruhnya terhadap tingkah laku kita saat bergaul, sehingga masyarakat akan mengganggap kita guru "Ilhap_(Gila.red)".

Namun, ada yang lebih penting dari masalah di atas yang sering diabaikan, yaitu karakter guru itu sendiri. Guru adalah contoh untuk siswanya,  mulai dari cara berbicara, berjalan dan berpakaian. Ketika seorang guru memiliki karakter yang baik, siswa akan mengikuti hal tersebut.

Pendidikan karakter yang didengungkan pemerintah tampaknya hanya menyentuh siswa sebagai objek. Sementara guru ditempatkan sebagai subjek. Siswa harus dibiasakan dengan pengembangan budi pekerti sehingga karakternya baik. Permasalahannya, bagaimana guru-guru yang memberikan pendidikan karakter?  Apakah guru-guru yang memberikan pendidikan karakter sudah berkarater baik?

Kita cermati bagaimana karakter anak-anak didik kita sekarang? Sudahkah mencerminkan karakter baik gurunya? Sebuah ungkapan masyarakat Aceh yang banyak dipakai untuk memberi nasehat, mempunyai makna yang sangat dalam "PEUGAH HABA BEK KA MEUJUNGKAT KEUNG"

Makna implisit yang terkandung di dalamnya adalah, ketika kita berbicara harus melihat kaedah, dan menjaga sopan santun, baik dengan yang muda maupun yang lebih tua. Kalau dianalogikan, Bagaimana kita mengerti dan belajar menghargai orang lain, kalau tutur bahasa kita masih menyinggung perasaan orang lain. Dalam konteks guru berkarakter, pertanyaan yang patut direnungkan oleh seorang guru adalah, Bagaimana siswa dapat belajar karakter baik dari guru yang tidak punya karakter baik?

Mungkin bagi sebagian guru akan protes, mengapa guru harus berkarakter? Guru kan manusia biasa, tentu tidak akan sempurna. Bagaimana mungkin membuat siswa berkarakter dari guru yang tidak sempurna? Dan sederet pertanyaan serta argumen lainnya. Kita meyakini bahwa hanya Tuhan saja yang sempurna, oleh karenanya belajar kesempurnaan dari yang tidak sempurna adalah kemustahilan. Karena itu ketidaksempurnaan hasil tentu tidak relevan lagi jika dipakai sebagai alasan. Jadi dalam ketidaksempurnaan itulah guru harus menjadikan pendidikan menuju pendidikan yang berkarakter dan bermutu.

Dalam konteks ini menjadi guru berkarakter itu adalah suatu proses. Dengan demikian seorang guru dapat dengan cukup mudah untuk menilai dirinya apakah dia sudah menjadi lebih pekat konsentrasi berkarakternnya dibandingkan sebelumnya. Setelah sekian tahun menjadi guru, apakah dirinya memiliki karakter yang lebih baik dibandingkan ketika diawal mereka menjadi guru, atau menjadi guru hanya sebuah pelarian nasib.

Semoga kita semua menjadi pendidik yang berkarakter, bukan pendidik yang berkarikatur. (Fitriadi Mahmud)