Damin Sada Tolak Keras Wacana Pemekaran Kabupaten Bekasi Utara -->

Advertisement


 

Damin Sada Tolak Keras Wacana Pemekaran Kabupaten Bekasi Utara

SANGRAJAWALI
Friday, June 26, 2020

Damin Sada Ketua Umum Jajaka Nusantara (Tokoh Masyarakat Bekasi)

KeizalinNews.com | Kab. Bekasi - Tokoh Bekasi Utara, Damin Sada, angkat bicara mengenai rencana pembentukan calon daerah otonomi baru (CDOB) Kabupaten Bekasi Utara.

"Sebenarnya bukan wacana, ini sudah basi sebenarnya. Dengan adanya pemekaran ini patut diduga banyak oknum mencari keuntungan. Dulu pernah dibiayain oleh Pemda kurang dari satu miliar seharusnya itu duit buat jajak pendapat, bukan sosialisasi. Dulu satu-satunya orang yang menolak pemekaran cuman gua," kata dia, Rabu (24/6/2020).

"Alasannya, kalau ibarat orang tua punya anak, lalu anaknya berkeluarga, nih anak belum punya kerjaan belum punya rumah, dia pengen misah dari orang tuanya kira-kira gimana tuh, jadi gelandangan kan nanti orang tua juga yang susahkan," tambah pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Jawara Jaga Kampung (Jajaka) Nusantara.

Damin juga meragukan kesejahteraan yang diiming-imingi jika memisahkan diri dari Kabupaten Bekasi. Sebab, tidak ada potensi yang dapat digali untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di utara Bekasi.

"Nah sekarang kalau mau misah, emang di utara punya apa. Oh punya minyak, minyak juga mau habis, itu BBWM aja mau bangkrut malah minta dibuat Hotel, dan gak semuanya juga hasil minyaknya buat kita kan. Nah sekarang apa yang didapat dari utara, pantai? Emang mau pantai apa yang dikelola. Yang diambil apa? Dari rumah sawah yang diambil pajak PBBnya? Lah itu juga gak cukup," ungkapnya.

Kemudian, bila Kabupaten Bekasi Utara jadi untuk dimekarkan maka secara otomatis kebutuhan pegawai negeri juga akan banyak dibutuhkan. Namun, ia pun sangsi jika putra asli daerah yang akan direkrut.

"Nah pertanyaannya kalau siap, di situ bakal butuh 2-3 ribu orang yang kerja di pemda, apakah itu bakal orang Bekasi asli, belum tentu. Mungkin kalau tahun 60-an bisa jadi PNS, lah sekarang mah gak bakal bisa, yang ada malah bakal terjadi kecemburuan sosial entar," jelasnya.

Untuk itu, ia menduga orang yang bersikeras untuk memisahkan Kabupaten Bekasi menjadi dua layaknya orang Belanda yang ingin memecahbelah dengan metode Devide Et Impera. Dengan memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadinya dan jauh dari niatan untuk mensejahterakan masyarakat Utara.

"Jadi mau mekar secepatnya emang mau apa, yang ada itu memecah belah orang Bekasi. Gua satu satunya yang menolak, yang lain pada bego gak pernah melihat masalah. Diiming-imingin kita bakal begini begitu, kalau bisa jangan manisnya aja paitnya juga dikasih tau. Kalau gak ada penghasilan boro-boro ngebangun, gaji pegawai juga gak cukup," bebernya.

"Yang jelas yang mau misah itu berarti Belanda Devide Et Empira memecah belah, mau cari duit itu. Lu tenang aja jadi kabid disono eh yang nipu dapet duit. Tahu gak loh seorang kiai jadi korban, diiming-imingin jadi bupati sampe keluar 180 juta. Jadi kalau gua bilang ada oknum cari kesempetan cari duit," tambahnya. (Cemat/PB)